Business Story – BCA PRIORITAS

 

Servasius Bambang Pranoto

 

LABA MELIMPAH DARI USAHA MINYAK REMPAH

 

Meninggqalkan kemapaman di Jakarta untuk

menepi ke GIanyar, Bali. Mengantarkan Servarius Bambang Pranoto kepada kesulitan

demi kesulitan. HIngga pada suatu titik, ia justru menjadi permau minyajk rempah berkhasiat.

Mulanya Minyak tersebut hanya untuk mengobati

dirinya sendiri, lantas di produksi massal dan kini sangat popular.

 

 

Lahirnya Minyak Kutus Kutus produksi Tamba Waras, demikian merek minyak rempah ramuan Bambang, menyimpan cerita tersendiri. Siapa sangka, produk yang terbuat dari 49 macam bahan alam tersebut di temukan setelah Bambang tertimpa musibah.

 

  Tahun 2002, Bambang dan istrinya, Lilies Susanti Handayani, pindah dari Jakarta ke Bali untuk menepi. Jabatannya sebagai general manager sebuah grup perusahaan multinasional, dosen Institut Kesenian Jakarta, dan perusahaan perfileman miliknya ditinggalkan semua. Keputusan tersebut membawanya pada banyak kesulitan. Hingga suatu ketika ia terperosok jatuh dan menjadikannya lumpuh dari pinggang ke bawah pada 2011.

 

 

Tiga bulan lamanya ia menderita.

Hingga akhirnya Bambang menemukan ramuan minyak dari tumbuh-tumbuhan yang resepnya ia peroleh dari orang tua. Resep tersebut ia cari tahu dengan menggali informasi di internet.

Setelah jadi, Bambang gunakan Minyak oles tersebut untuk mengobati lumpuhnya. “Saya pakai sembuh. Kemudian saya bagi ke teman-teman. Mereka sembuh juga, bahkan yang stroke dan kanker stadium 4. Dahulu Minyaknya

masih bau menyengat dan belum ada merk. Lalu beberapa teman mengusulkan untuk produksi massal,” kenang pria yang mengidolakan Steve Jobs ini.

   “Untuk merek, dipilhlah Kutus Kutus Bahasa Bali, artinya ‘delapan-delapan,)

 

   Dan pada awal tahun 2013 Kutus Kutus mulai dipasarkan sebanyak 500 Botol dengan harapan laku. Dan ternyata tidak laku. Lalu saya cari tahu bagaimana caranya biar laku. Keluarlah kemasan baru pada tahun 2013 dengan desaion yang saya buat,” tutur ayah dari  Citra, Nita, Arniel dan Ukhita ini.

 

  Terobosan lainnya, Bambang memasarkan lewat media social, Facebook, pada 16 Desember 2013. Sejak itu mulai laku dan banyak reseller. Pada Januari 2014 penjualan mulai menanjak sekitar 1.000 Botol/bulan.

 

“Pembeli pertama orang-orang yang tersembuhkan. Yang akhirnya jadi reseller.

Penjualan mulai naik jadi 1.500, 2.000, 2.500 sampai 3.000 botol,” ungkapanya.

 

Produk baru

 

Kendati akhir tahun 2015 penjualan Kutus Kutus tak bagus, Bambang justru mengembangkan produk baru dengan nama Tanamu Tanami

 

Produk ini merupakan kombinasi minyak Kutus Kutus dengan minyak buah nyamplung iuntuk mengobati penyakit kulit.

    Di samping Tanamu Tanami, Bambang juga mengeluakan produk lain serupa sabun. Sabun ini dibuat untuk memanfaatkan sisa pengolahan minyak Kutus Kutus. “Sisa pengolahan minyak Kutus Kutus saya lihat masih punya khasiat. Hingga akhirnya muncul ide unbtuk membuat sabun dengan nama Kalila Kalila. Selain itu sisa pengolahan minyak Tanamu Tanami pun di jadikan sabun Tanamu Tanami. Jadi, di industry kami semuanya terpakai,” jelas Bambang.

  Setelah pengembangan produk baru pun, usaha Bambangtak beranjak membaik, bahkan harus menghadaoi tantangan dari distributor yang membuat minyak sendiri dan memasarkan melalui jaringan reseller Kutus Kutus.

    Bambang pun memutuskan kerja sama dengan reseller utama dan menjalankan sendiri pemasaran produknya. Ia gunakan semua ilmu marketing yang dikuasainya selama masih menjadi karyawan pemasaran di perusahaa multinasional.

  Begitu saya pegang sendiri, penjualan meledak. Harga  saya rombak, agar resellermendapatkan keuntungan maksimal melalui skema penjualan yang jela, serta memberi bonus bagi reseller yang melampui target. Ini yang akhirnya merangsang orang untuk menjual, bahkan penjualan seluruh reseller melebii target saya,” ujarnya.

 

   Produk keluaran Tamba Waras sudah teregistrasi hak cipta dan mengantongi izin dan kementerian kesehatan, serta sertifikat Halal MUI Bali. “Ada registrasi HKI dan kemenkes sebagai Usaha MIkro Obat Tradisional tahun

2015 dan telah memiliki sertifikat halal dari MUI Bali,” kata Bambang penuh syukur.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *